ngopcan 5
BLOGGING

Tutorial Membuat Artikel Kecantikan yang Disukai Pembaca

2009 adalah tahun dimana saya mengenal bahwa ada sesuatu yang bernama BLOG di dunia maya, selain Friendster dan Facebook. Saat itu saya girang enggak ketulungan karena saya berpikir bahwa ternyata siapapun bisa punya website pribadi. Akhirnya blogspot saya percayakan sebagai tempat blog bernaung karena user friendly untuk pemula.

Kenapa Jadi Beauty Blogger ?

Lalu lewat blogwalking saya menemukan sebuah forum khusus perempuan bernama Gurl.me sekitar tahun 2010. Anggotanya bervariasi mulai dari anak sekolah, kuliah, kerja sampai ibu rumah tangga. Dengan berbagai macam kategori seperti gosip, keluarga, karir, sekolah,  kesehatan, kecantikan, olah raga, hewan, teknologi, games, pakaian, hobby, sampai belanja online. Enaknya di forum ini adalah sesama member itu terasa kayak udah dekat dan kenal dari lama, bahkan enggak seperti orang asing waktu baru banget gabung. Dari forum itu saya bertemu teman-teman dunia maya yang suka kosmetik yang juga beauty blogger.

gurlme

Nah akhirnya saya kena racun kosmetik dari situ tuh. Kemudian secara perlahan, blog yang dulunya cuma tempat curhatan dan kpop, berubah jadi beauty blog. Jadi bisa dibilang berawal dari forum gurl.me itulah saya menjadi seorang beauty blogger. Eh tapi sayangnya enggak lama setelah join, forum tersebut tutup dan enggak diperpanjang oleh Big Momma (nickname sang owner) sampai sekarang. Sedih banget rasanya karena saya mengenal bahkan belajar makeup darisitu.

Fast forward ke jaman now, semakin kesini beauty blogger makin banyak aja. Dan banyak juga yang berbeda dibanding jaman dulu. Seperti tata bahasa dan konten yang semakin kreatif. Mungkin ini faktor persaingan juga ya, karena makin banyaknya beauty blogger baru bermunculan maka setiap blogger berlomba-lomba agar blognya disukai pembaca. Apalagi ditambah mbah Google sangat menaruh hati kepada blog dengan konten beauty.

Baca : Tips SEO for Blog by Shintaries (Founder Blogger Perempuan)

 

Blogging is Writing

Setelah 9 tahun bergelut di dunia blogging, saya makin sadar bahwa esensi dari blog itu adalah menulis, suka enggak suka mau enggak mau. Karena sebelumnya saya berpikir bahwa jadi beauty blogger itu sih gampang, yang penting foto-foto produknya aja diperbanyak. Saya pikir foto telah mewakili kata-kata jadi saya enggak memperbaiki skill menulis saya. Dan saya hanya menyajikan deskripsi seadanya sampai pada akhirnya saya bergabung di komunitas blogger 2 tahun lalu. Sampai pada akhirnya saya blogwalking di beberapa blog dan bergumam sendiri eh kok enak banget ya baca blog si A, B, C – Z. kok saya enggak bisa begitu blognya?

Baca : Beauty Blogger Harus Mengerti PUEBI

Thank God, Beautiesquad selalu memfasilitasi tiap anggota nya dengan rutin mengadakan online workshop yang disebut Ngopi Cantik. Seperti materi minggu lalu yang tentu berguna sekali untuk Beauty Blogger baik yang sudah ada maupun yang ingin bergabung. Kali ini kita belajar tentang bagaimana membat artikel kecantikan yang baik sehingga menarik dan juga informatif buat pembaca blog kita dengan Grisselda Nihardja sebagi pematerinya. Jadi, perempuan cantik ini adalah salah satu Lead Editor dari Beauty Journal by Sociolla. Pastinya Mba Grisselda ini udah paham betul dong yah mengenai tata cara atau segala hal teknis tentang artikel kecantikan, baik dari mengelola ide sampai mempublishnya. Duh sesembaknya pengertian aja nih kalau jadi Beauty Blogger itu banyak problematika nya.

Baca : Problematika Beauty Blogger

Langsung ke pembahasan nya yuk, dibawah ini adalah materi yang dijabarkan ya.  Monggo disimak 🙂

 

1. Sumber Ide

Sebelum penulisan, tentu kita perlu mencari ide terlebih dulu. Kadang nih, yang cukup sering terjadi adalah “mentok ide”. Di Beauty Journal sendiri, kami tiap hari publish artikel 10/hari. Jadi kalau mencari ide memang perlu ngulik dan aware dengan hal-hal di sekitar dan di luar circle kita.

Yang paling utama saat mencari ide artikel adalah, cari dulu apa yang lagi trending. What’s trending on social media? Bisa lihat Instagram, YouTube, atau kalau masih main Twitter, bisa juga lihat di sana. This is one of great sources, karena sekarang semua orang pasti pakai social media.

Next source to find ideas is from people around us. Temen-temen di kantor lagi pada ngomongin apa sih? Atau temen-temen di sekolah/kampus, temen arisan/rumpi (bukan temen julid ya 😂) atau saudara lagi asik bahas apa? Ini juga bisa jadi sumber ide kita untuk buat artikel. Misalnya, di kantor Beauty Journal obrolan pas makan siang lagi pada saling tanya ni anak-anaknya, lipstik lokal favoritnya apa. Ya kami tim editorial jadi ngeh, “ohh, kita bikin aja beberapa artikel seputar lipstik lokal. Belum pernah dibuat nih di BJ.”

Sumber lain yang bisa dipakai juga adalah Google Trends. Nanti pada cobain yah buka https://trends.google.com/, walau nggak spesifik banget datanya (karena ini free), at least kita ada gambaran apa sih yang banyak nongol di sana. Contoh ya: aku search “lipstik”, lokasi udah di-set di Indonesia, dan waktunya 3 bulan terakhir (menggunakan Google Trends). hasilnya kaya gini, ada related topics, dan ada related queries. Kadang memang hasil yang muncul agak “apaan sih nih”, tapi ada juga insights yang bisa kita ambil. aku jadi tahu malah ada brand Ozera. lalu jadi kelihatan juga kalau lipstik pixy dan lipstiknya Ivan Gunawan banyak juga yang nyari. hal-hal seperti ini bisa jadi peluang kita sebenernya untuk buat artikelnya.

 

2. Management Ide

Untuk ide-ide artikel, supaya rapi sebaiknya kita punya file khusus buat menyimpan semuanya. Tiap orang bisa punya metode cara nyimpan ide yang beda-beda, sesuaikan saja dengan selera ya. Bisa sesimpel kita tulis di notebook/planner, bisa juga kita buat di microsoft excel/google spreadsheet, atau bikin dokumen sendiri di microsoft word/pages/google docs untuk list down all the ideas. 😄

 

3. Jenis-jenis Artikel Kecantikan

Nah, sumber ide kalo sudah aman, kita mulai ke artikelnya. Beauty article sendiri tipenya macam-macam ya, jadi sebelum kita nulis, harus tahu dan ditentukan dulu mau seperti apa. Umumnya, beauty article punya tipe seperti ini:

– Produk rekomendasi

– Review

– Tips

– Tutorial

– Interview

Treatment untuk masing-masing tipe itu pun beda-beda. Dan sebagai penulis, usahakan untuk cover important aspects dari tiap-tiap tipe artikel yang kita buat.

Kalau review, sudah pasti perlu ada beberapa poin yang dibahas seperti kemasan, klaim, ingredient, cara pakai, pendapat, harga produk dan bisa dibeli di mana. Misal kalau kita nyorotin soal kemasan.  Kelihatan simpel ya, tapi mungkin ada informasi yang orang lain gak bisa tahu kalau belum pernah pegang atau pakai produknya. Sesimpel kita beli setting spray, eh tapi pasti dipencet, spray-nya nyebarnya nggak rata atau malah terlalu kencang. Hal-hal seperti ini yang perlu disampaikan juga ke pembaca supaya mereka lebih aware juga.

Untuk rekomendasi, kita juga perlu jelaskan secara singkat apa yang bagus dari produk-produk tersebut. Misal kita mau buat artikel 5 rekomendasi liquid foundation merek lokal. Nah, di isinya, kita perlu kasih tahu beberapa informasi untuk tiap produk — apa yang buat produk itu beda dari yang lain? Apakah harganya, ingredient-nya, pilihan warnanya yang banyak? Sebisa mungkin dikasih tahu alasannya.

Kalau tips, usahakan mulai dari tips yang practical dan bisa membantu pembaca. Kalau tips-nya sulit dan merepotkan untuk dilakukan/dibuat (misal, harus cari bahan xxxxx di Pasar xxxx. Ya gimana yaa, gak semua orang tinggal di kota yang sama atau mau niat ngubek pasar). Semakin gak practical, audience yang bisa kita engange makin dikit.

Nah, interview juga penting. Siapa tahu di sini ada yang datang ke event-event product launch tertentu, bisa sekalian interview brand manager atau orang-orang di balik event itu untuk artikel. Sebelum interview, kita harus tentukan tema besarnya, mau menyoroti dari angle mana, lalu kembangkan pertanyaan-pertanyaan untuk tema tsb. Usahakan untuk tidak menanyakan pertanyaan yang terlalu umum, atau kalau memang perlu nanya pertanyaan umum buat mencairkan suasana dulu, ya jangan kebanyakan/keterusan ya 😂

 

4. Buat Struktur Artikel

Artikel tutorial dan semua tipe artikel perlu dikasih foto/image pendukung yang bagus. Orang suka lihat foto. Foto/image yang kita taruh di dalam artikel juga bisa bantu readers supaya nggak bosan. Kalau 1 artikel 700 kata isinya tulisan semua, potensi orang untuk close tab atau bosan semakin tinggi. Aku sambil share di Beauty Journal ya. Di sini juga ada beberapa penulis yang pernah kirim tulisan ke BJ pasti udah tahu 😄 Semakin jelas struktur artikel, semakin mudah juga saat ditulis

Versi singkat mungkin bisa dari point-pointnya. Contoh aku buat artikel tentang kesalahan pakai foundation. Kalau cuma nulis ide “Kesalahan pakai foundation” saja, pas waktu nulis bisa buang-buang waktu isinya mau dibikin kaya gimana. Lain cerita kalau saat nulis ide, sudah ditulis juga poin-poin pembahasan di dalamnya mau seperti apa.
Misal: Kesalahan seputar aplikasi foundation

– Belum melakukan skin prep dengan baik

– Pakai foundation saat primer masih basah

– Menggunakan aplikator yang kotor

Semakin jelas apa saja yang mau dibahas, semakin enak kita nulisnya. Kalau bisa, saat taruh ide, sudah ada juga kerangka besar artikel untuk memudahkan diri kita sendiri

Aku pernah baca tulisan dari CMO agency luar, dan setuju banget sama kata-kata dia. Artikel yang bagus bisa buat pembaca:

– Belajar sesuatu

– Melakukan sesuatu

– Merasakan sesuatu

Artikel yang bagus akan mendorong pembacanya untuk ikut coba (bisa tips/tutorial/produk), merasakan suara/opini dari penulis (bisa bagus/buruknya produk, atau merasa relevan dengan pengalaman/ceritanya).

Leave a Reply

Required fields are marked*